Posterous theme by Cory Watilo

KADO ULANG TAHUN YANG KE DELAPAN BELAS

Bulan Mei ini, anak saya memasuki usia delapan belas tahun. Sebuah usia yang menapak dewasa. Dalam usianya ini, sebagai orang tua saya harus makin pintar menempatkan diri, tidak hanya sebagai orang tua tapi juga sebagai teman  yang tepercaya dalam segala hal. Satu hal yang tidak akan pernah saya lakukan adalah mendikte dan memaksakan kehendak.

Ulang tahun kali ini ia memperoleh kado terindah:   mendapat kesempatan  sebagai editor freelance (sesuai  keinginannya) di sebuah website pariwisata berbahasa Inggris, setelah mengikuti tes dan dinyatakan lulus.

 

Wah, senangnya tidak terkira karena jenis pekerjaan seperti inilah yang diinginkannya. Terutama karena sangat sesuai dengan hobinya yaitu online dan Bahasa Inggris. Dia memang ingin mempunyai kegiatan untuk mengisi waktu libur yang panjangnya berbulan-bulan sebelum perkuliahan efektif dimulai. “Kegiatan yang menyenangkan dan menghasilkan uang, Bu, tapi bisa dikerjakan di rumah.” Itu katanya. J

 

Sebenarnya  sudah  agak lama dia mengejar-ngejar saya agar mencarikan informasi tentang pekerjaan yang seperti ini. Saya janji, setelah selesai pelaksanaan UAS dan UAN akan saya carikan informasi. Beberapa hari setelah selesai UAS dan UAN, saya mendapat  informasi  tentang lowongan editor freelance  ini.  Tugas utamanya adalah menyunting artikel sebelum diposting di website. Kalau dirasa perlu, artikel itu boleh ditulis ulang  asalkan tidak mengubah isinya.

 

Saya menyampaikan informasi tersebut kepada anak, apakah dia berminat?

“Berminat banget!” jawabnya antusias.

“Nah, kalau begitu silakan buka tautan ini, semua persyaratan ada di situ termasuk cara pendaftarannya.”


Saya pun memberinya sebuah tautan, langkah-langkah selanjutnya dia lakukan sendiri.

 

Setelah melakukan registrasi, dan mengikuti tes, singkat kata dia dinyatakan lulus dan layak sebagai editor di website tersebut.  Mulailah hari-harinya sebagai pekerja freelance.  Saya menganggap pekerjaannya ini sebagai ajang melatih disiplin dan mengatur waktu. Mau tidak mau dia  jadi lebih bertanggung jawab, terutama dalam pengelolaan waktu. Setelah UAN, praktis tidak ada lagi kegiatan di sekolahnya, tetapi kegiatan belajar tetap ada untuk persiapan masuk perguruan tinggi. Dia ikut les intensif setiap hari dari jam sembilan sampai jam sebelas. Setelah itu dia mengatur waktunya sendiri agar semua kegiatannya bisa berjalan. Dia sendiri menentukan target berapa artikel yang harus diselesaikan dalam sehari. Mengatur jadwal untuk kumpul-kumpul atau jalan-jalan dengan gang-nya, dan tetap ingat dengan tugas-tugas  rumah tangga yang biasa dikerjakannya.

 

Walaupun anak tunggal, saya tidak pernah memanjakannya secara berlebihan.  Justru karena anak tunggallah saya harus benar-benar mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi kehidupan yang makin tidak mudah ini.  Karena tidak punya saudara kandung tempatnya bergantung, walaupun sepupu-sepupunya sangat menyayangi dan memperhatikannya. Saya ingin dia terbiasa ringan tangan, tidak canggung mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Cepat atau lambat, dia akan berpisah dengan orang tuanya dan membangun rumah tangga sendiri.  Bila saat itu tiba, dia tidak akan kaget lagi. Untuk itulah saya berusaha mendidiknya dengan sebaik mungkin, dengan tetap bisa menikmati  masa-masa remajanya yang indah.

 

Saya bersyukur Tuhan menganugerahkan seorang putri yang baik  dan taat  pada orang tuanya. Terima kasih, Tuhan. Semoga Engkau selalu menjaganya dan mengabulkan segala cita-citanya. Amin.

KADO ULANG TAHUN YANG KE DELAPAN BELAS

Bulan Mei ini, anak saya memasuki usia delapan belas tahun. Sebuah usia yang menapak dewasa. Dalam usianya ini, sebagai orang tua saya harus makin pintar menempatkan diri, tidak hanya sebagai orang tua tapi juga sebagai teman  yang tepercaya dalam segala hal. Satu hal yang tidak akan pernah saya lakukan adalah mendikte dan memaksakan kehendak.

Ulang tahun kali ini ia memperoleh kado terindah:   mendapat kesempatan  sebagai editor freelance (sesuai  keinginannya) di sebuah website pariwisata berbahasa Inggris, setelah mengikuti tes dan dinyatakan lulus.

Wah, senangnya tidak terkira karena jenis pekerjaan seperti inilah yang diinginkannya. Terutama karena sangat sesuai dengan hobinya yaitu online dan Bahasa Inggris. Dia memang ingin mempunyai kegiatan untuk mengisi waktu libur yang panjangnya berbulan-bulan sebelum perkuliahan efektif dimulai. “Kegiatan yang menyenangkan dan menghasilkan uang, Bu, tapi bisa dikerjakan di rumah.” Itu katanya. :-)

Sebenarnya  sudah  agak lama dia mengejar-ngejar saya agar mencarikan informasi tentang pekerjaan yang seperti ini. Saya janji, setelah selesai pelaksanaan UAS dan UAN akan saya carikan informasi. Beberapa hari setelah selesai UAS dan UAN, saya mendapat  informasi  tentang lowongan editor freelance  ini.  Tugas utamanya adalah menyunting artikel sebelum diposting di website. Kalau dirasa perlu, artikel itu boleh ditulis ulang  asalkan tidak mengubah isinya.

Saya menyampaikan informasi tersebut kepada anak, apakah dia berminat?

“Berminat banget!” jawabnya antusias.

“Nah, kalau begitu silakan buka tautan ini, semua persyaratan ada di situ termasuk cara pendaftarannya.”

Saya pun memberinya sebuah tautan, langkah-langkah selanjutnya dia lakukan sendiri.

Setelah melakukan registrasi, dan mengikuti tes, singkat kata dia dinyatakan lulus dan layak sebagai editor di website tersebut.  Mulailah hari-harinya sebagai pekerja freelance.  Saya menganggap pekerjaannya ini sebagai ajang melatih disiplin dan mengatur waktu. Mau tidak mau dia  jadi lebih bertanggung jawab, terutama dalam pengelolaan waktu. Setelah UAN, praktis tidak ada lagi kegiatan di sekolahnya, tetapi kegiatan belajar tetap ada untuk persiapan masuk perguruan tinggi. Dia ikut les intensif setiap hari dari jam sembilan sampai jam sebelas. Setelah itu dia mengatur waktunya sendiri agar semua kegiatannya bisa berjalan. Dia sendiri menentukan target berapa artikel yang harus diselesaikan dalam sehari. Mengatur jadwal untuk kumpul-kumpul atau jalan-jalan dengan gang-nya, dan tetap ingat dengan tugas-tugas  rumah tangga yang biasa dikerjakannya.

Walaupun anak tunggal, saya tidak pernah memanjakannya secara berlebihan.  Justru karena anak tunggallah saya harus benar-benar mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi kehidupan yang makin tidak mudah ini.  Karena tidak punya saudara kandung tempatnya bergantung, walaupun sepupu-sepupunya sangat menyayangi dan memperhatikannya. Saya ingin dia terbiasa ringan tangan, tidak canggung mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Cepat atau lambat, dia akan berpisah dengan orang tuanya dan membangun rumah tangga sendiri. Bila saat itu tiba, dia tidak akan kaget lagi. Untuk itulah saya berusaha mendidiknya dengan sebaik mungkin, dengan tetap bisa menikmati  masa-masa remajanya yang indah.

Saya bersyukur Tuhan menganugerahkan seorang putri yang baik  dan taat  pada orang tuanya. Terima kasih, Tuhan. Semoga Engkau selalu menjaganya dan mengabulkan segala cita-citanya. Amin.

DIAM-DIAM TERNYATA....

Ada perkembangan yang menggembirakan dan agak mengejutkan dari anak saya yang sungguh tidak saya duga sebelumnya. Diam-diam ternyata dia memerhatikan dan menyukai Bahasa Indonesia (BI), dan sedapat mungkin menggunakan Bahasa Indonesia yang baik. Memang saya tahu, dia tidak seperti teman-teman sebayanya yang cenderung suka dan sering menggunakan bahasa alay,  tetapi tetap saja saya tidak menyangka dia mempunyai ketertarikan yang cukup besar terhadap BI. 

Pernah dia menyatakan keinginannya untuk kuliah di jurusan sastra Bahasa Indonesia. Tapi kemudian dia berpikir sendiri, kalau tamat kuliah nanti mau kerja di mana? Saya sendiri tidak memaksakan mesti kuliah di mana, namun rupanya dia juga cukup realistis. 

Suatu hari dia cerita dengan bangganya bahwa dia ikut menjadi anggota grup di sebuah komunitas di FB yang khusus membahas BI dengan segala pernak-perniknya, yang anggotanya sebagian besar adalah anak-anak muda.  Salah satu syaratnya adalah setiap berinteraksi di grup tersebut harus menggunakan BI yang baik dan benar, tidak boleh menyingkat kata-kata (misalnya ‘yang’ jadi ‘yg’, ‘tapi’ menjadi ‘tp’ dan sejenisnya).  Bahasa alay diharamkan di sana, misalnya ‘soalnya’ jadi ‘alna’, ‘berangkat’ jadi ‘b3r4ngk4t’, atau saya jadi ‘sAyA’, dan sebangsanya. 

Khusus tentang bahasa alay ini, saya memang wanti-wanti kepada anak saya supaya jangan coba-coba menggunakannya dengan saya. Saya paling tidak suka membaca tulisan seperti itu. Kalau cuma singkatan kata-kata yang sudah umum, okelah, tapi kalau sudah menggunakan kombinasi angka atau kombinasi huruf besar dan kecil, wah… sungguh menyebalkan. Syukurlah anak saya juga rupanya tidak suka dengan bahasa-bahasa alay seperti itu.  

Setelah bergabung di grup itu, rasa berbahasanya jadi lebih sensitif. Dia mulai merasa tidak nyaman setiap melihat ada kesalahan-kesalahan berbahasa, terutama sering dilihatnya di jejaring sosial atau spanduk/poster reklame di pinggir-pinggir jalan. Kalau sudah begitu biasanya dia mencentuskan rasa tidak nyamannya kepada saya, “Wah, kok gitu sih, Bu? Emangnya tidak dicek dulu sebelum dipasang? Kesalahannya itu  sangat fatal, Bu.”  Itu salah satu komentarnya ketika melihat tulisan ‘di pukul’, bukannya ‘dipukul’ atau ‘dipasar’ yang mestinya ‘di pasar’. 


 

Anak Yang Aneh

Kejadian ini terjadi kira-kira  3 minggu yang lalu.  Sebenarnya saat itu anak saya masih libur kenaikan kelas, tapi karena  sebagai panitia inti dalam kepanitiaan Lomba IT untuk anak-anak SMP yang diadakan oleh sekolahnya sehingga dia harus ke sekolah karena ada rapat panitia. Biasanya kalau menjemputnya saya pasti masuk sampai halaman depan dan menunggu di sana. Tapi hari itu ada pra-MOS untuk anak-anak kelas I baru yang memenuhi halaman depan sekolah, jadi oleh Satpam para penjemput tidak diijinkan masuk. Akhirnya saya pun hanya menunggu di luar pintu gerbang. Saya telepon anak dan mengatakan saya menunggu di luar. Sambil menunggu, saya asyik menyaksikan anak-anak kelas I baru yang dengan patuhnya mengikuti setiap komando dari kakak kelasnya. Ada beberapa anak yang terlambat datang, tapi karena ini hanya pra-MOS, panitia MOS masih menolerir mereka.

Beberapa saat kemudian anak saya muncul, saat yang hampir  bersamaan saya melihat seorang anak laki-laki mengendarai sepeda motor  menyeberang ke arah saya dan langsung parkir dengan tergesa-gesa di depan sekolah. Melihat sikapnya yang amat terburu-buru saya mengira dia adalah anak kelas I baru yang telat datang. Keliatan sekali dia agak panik. Seperti biasa, kalau melihat yang agak-agak aneh sedikit saja, pasti segera menjadi bahan pembahasan saya dan anak.

"Jung, tampaknya itu adik kelasmu yang datang terlambat deh."
"Iya, Bu. Kaya'nya sih begitu."
"Eh, tapi... kenapa dia berpakaian seperti itu?" kata saya agak heran melihat kaos oblong seadanya dan celana jean super ketat yang dipakainya plus sandal jepit. Beda jauh dengan pakaian yang dipakai oleh teman-temannya yang saya lihat sudah berbaris rapi.
Anak saya baru memperhatikannya. "Wah, iya... berarti bukan anak sini, Bu."
Tapi sedetik kemudian kami berdua ternganga.  Anak itu dengan terburu-buru membuka kaos oblongnya dan menggantinya dengan T-Shirt putih kemudian memakai celana panjang hitam di luar jean super ketatnya. Setelah itu dia merogoh ranselnya dan mengeluarkan sepasang sepatu, dikenakannya  dengan buru-buru. Semuanya dilakukan di pinggir jalan raya!.

Melihat pemandangan itu anak saya ngomel-ngomel.
"Apa?? Ini adik kelasnya Ajung? Dengan perilaku seperti itu? Oh, tidakkkk!"
Saya tidak dapat menahan tawa geli. Sepanjang jalan menuju pulang anak saya tidak henti-hentinya ngomel dengan nada marah.
"Huh! Coba Ajung ikut jadi panitia MOS, Ajung akan buat dia jera supaya dia pindah dari sini, dan tidak betah sekolah di Resman."
Saya hanya senyum-senyum.
"Ajung tidak rela, Bu! Punya adik kelas seperti itu, tidak punya etika ganti baju di pinggir jalan. Lagian, kenapa tidak bersiap-siap dari rumah saja? Memalukan!"
Saya menjawab kalem, "Mungkin tadi dia habis jalan-jalan, Jung."
"Lha? Jalan-jalan? Oke, boleh jalan-jalan. Tapi jadwal pra-MOS ini kan tidak mendadak, Buu. Ini sudah dijadwal jauh-jauh hari. Mestinya dia bisa dong mengatur dirinya."

"Tapi bersyukurlah dia tidak membuka dulu celana jean super ketatnya sebelum dia memakai celana hitamnya,"  kata saya sambil tetap tersenyum. Anak saya tambah murka. "Huh. Tidak punya etika, tidak punya rasa malu!"

Saya tahu anak saya sangat gemas dan kesal melihat adik kelasnya seperti itu. Saya juga tahu anak saya tidak terima sekolah kebanggaannya ini punya murid seperti itu. Dia begitu cinta dan sayang dengan sekolahnya. Otaknya selalu berpikir apa yang harus diperbuatnya untuk membuat agar pihak sekolah pun bangga dengan dirinya. Hal itu memotivasinya untuk selalu berusaha berbuat yang terbaik untuk sekolahnya.

Sampai di rumah dia masih ngedumel. Saya berusaha menenangkannya.
"Ya, sudah. Besok kasih usul saja kepada pihak yang berwenang di sekolah, agar anak-anak kelas I baru ini dijaga disiplinnya dari awal, supaya tidak kebablasan."
"Iyah. Besok Ajung mau ngomong deh. Serius. Ajung tidak mau nama sekolah rusak gara-gara ulah segelintir anak."

Saya tersenyum sendiri setiap ingat dengan kejadian hari itu.

"Anak yang aneh." (Gaya Sinchan  mode on)

Anaklah Yang Jadi Korban Pertama

Kejadian ini sudah cukup lama, hampir setahun lalu saat anak saya
masih duduk di kelas 1 SMA. Sore itu anak saya kedatangan temen
sekolahnya. Gadis manis dengan rambut panjang hampir sepinggang,
Cantik, dengan kulit yg kuning bersih. Tapi, dibalik kecantikan
fisiknya, saya melihat raut wajahnya yang sedih walau berusaha
ditutupi dengan berusaha menunjukkan sikap ceria. Sepintas saya
mendengar percakapan mereka.

"Aku ngga tau, Gay...apakah ortuku begitu percayanya ama aku sehingga
mereka tidak pernah menanyakan kemana aku pergi dan sampai jam
berapa..."
"Maksudmu?", anak saya bertanya dengan nada heran.
"Maksudku...apakah mereka benar-benar memberikan aku kepercayaan, atau
karena mereka tidak peduli ama aku"

Saya agak kaget mendengarnya, dan belum sepenuhnya mengerti, sampai
kemudian anak saya bercerita, setelah temennya pamit pulang.

"Kasihan sekali Yas, bu", katanya. Saya tanya, "Emang kenapa?"
"Orangtuanya mau bercerai dan mereka sudah pisah rumah."
"Ohh...kenapa begitu?"
"Yas bilang, orangtuanya masing-masing sudah punya pacar lagi."

Kemudian anak saya bercerita panjang lebar tentang kehidupan Yas,
karena Yas emang sering curhat dengannya. Bagaimana sifat Yas di
sekolah yang suka mencari perhatian dan sering nyolot, sering membuat
jengkel teman-temannya. Tetapi anak saya yang tahu persis situasi di
rumahnya berusaha memahaminya. Bagaimana Yas yang sering merasa iri
setiap anak saya menerima telpon dari saya dan menanyakan sedang ada
di mana, atau SMS sekedar menanyakan nanti pulang jam berapa.
Yas sering mengungkapkan rasa irinya.
"Aku iri ama kamu, Gay...sering ditanya dan ditelpon ama ibumu. Aku
kok ngga pernah ditanya mau pulang jam berapa, atau mau pergi ke mana.
Aku pengin juga merasakan, ibuku nelpon dan menyuruhku pulang
cepat..."

Saya trenyuh juga mendengar cerita anak saya. Kasihan anak itu.
"Tapi syukurnya, Bu...walaupun dia broken home begitu, dia masih cukup
baik", kata anak saya.

Iyah, bener juga, masih untung dia tidak terjerumus ke hal-hal yang
negatif seperti pergaulan bebas atau narkoba. Mungkin dia terbantu
oleh lingkungan teman-temannya yang secara umum cukup santun dan tidak
ada yang aneh-aneh. Paling-paling teman-temannya hanya sedikit kesal,
misalnya sedang kalau sedang ngumpul bersama, sedang diskusi atau
ngobrol apa, tiba-tiba dia nyolot atau berteriak tidak jelas. Walaupun
jengkel, tapi temannya tidak marah karena merasa kasihan.

Apa yang saya dengar dari anak membuat saya tercenung. Benar,
perpisahan orang tua hanya akan membuat anak-anaknya menderita. Kalau
si anak tidak kuat mental, dia akan mencari pelarian ke hal-hal yang
negatif yang pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri dan
keluarganya. Tapi Yas masih cukup "beruntung", punya teman yang
mengerti dan mendukungnya.

Berita terakhir yang saya dengar adalah ayahnya sudah menikah lagi,
dan ibunya kemungkinan akan menyusul dalam waktu yang tidak terlalu
lama.

Duh, di dunia ini emang ada bermacam-macam cerita.

Berubah Fungsi

Pagi itu seperti biasa saya mengantar anak sekolah. Karena sudah agak siang, takut anak terlambat saya menjalankan kendaraan lebih cepat dari biasanya, dan beberapa kali menyalip kendaraan lain. Ada beberapa traffic light yang saya lalui sebelum akhirnya sampai di jalan Sudirman. Sekolah anak saya memang berlokasi di jalan Sudirman Denpasar. Setelah agak lama tidak bicara, tiba-tiba anak saya berkata :
"Bu, traffic light sekarang nampaknya berubah fungsi ya?"
"Oh, ya? Masa?," saya agak heran dan berpikir, "Kenapa saya belum tahu ada perubahan fungsi itu?"
"Iya, Bu....kalau dulu lampu merah itu kan tanda berhenti, lampu kuning tanda hati-hati, lampu hijau tanda jalan."
"Kan emang iya, lho... sekarang perubahannya dimana?" Saya masih tetap belum mengerti.
"Berubah kok, Bu...kalau lampu merah dan lampu hijau masih tetap berfungsi, tapi yang lampu kuning udah berubah."
Sejenak dia terdiam. "Sekarang fungsi lampu kuning adalah "silahkan percepat laju kendaraan Anda, bukan hati-hati."
Saya langsung tertawa mendengar jawabannya. Rupanya ada sedikit sindiran disana. Saya sadar, dari tadi saya mempercepat laju kendaraan setiap melihat lampu kuning menyala.
"Hehehe....iya, tadi ibu ngebut di lampu kuning itu demi Ajung, supaya tidak telat. Lumayan kan, 1-2 menit sangat berharga kan bagi Ajung?" Jawaban ngeles.
Walaupun mungkin alasan saya benar, bahwa waktu 1 menit sangat berharga bagi anak saya, karena jam 7.15 tepat, pintu gerbang sekolah akan ditutup, dan anak yang terlambat datang harus menghadap dulu ke ruang guru. Tetapi tetap saja bukan tindakan yang benar mempercepat laju kendaraan di saat lampu kuning menyala.

Wah....disindir oleh anak nih....

Lebih Mementingkan Curhat Seorang Sahabat

Kejadian ini terjadi 2 bulan yang lalu, tepatnya di bulan Agustus. Hari itu, sore menjelang malam saya sedang menemani anak latihan nyanyi, rencananya akan mengisi acara tujuh belasan. Saya dan anak bergantian menyanyi diiringi keyboard yang dimainkan sendiri oleh anak saya. Sedang asyik nyanyi, tiba-tiba telepon berdering dan kebetulan telepon itu terletak di atas meja yang berdekatan dengan tempat duduk anak saya. Telpon pun diangkatnya, hanya bicara sebentar, tidak lebih dari semenit, itupun tidak jelas apa yang dibicarakan..
"Dari siapa?", saya bertanya heran karena tidak biasanya dia bicara begitu singkat di telepon.
"Dari Sri....dia bilang mau datang sekarang"
"Lho...bilang dong sedang latihan"
"Kasihan, bu...dia pengin sekali kesini"
"Iyah, tapi kan waktu untuk latihan udah mepet banget nih"
"Bu....dia mau curhat, Ajung ga bisa nolak...kasihan, tadi dia nelpon sambil nangis"

Hmm, ya...sudah, ternyata anak saya lebih memilih mendengar curhatan temennya, ketimbang latihan nyanyi. Padahal waktunya cukup mendesak, sementara ada beberapa lagu baru yang perlu latihan lebih banyak. Sri adalah temen SD dan SMPnya, tapi setelah SMA beda sekolah.

Tidak sampai 15 menit setelah dering telpon tadi, Sri datang. Saya membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk. Sri tidak berani mengangkat wajahnya lama-lama, dia lebih banyak menunduk menyembunyikan wajahnya yang sembab habis nangis.

Anak saya langsung menyambut dan mengajaknya masuk ke kamarnya, lalu pintunya ditutup rapat. Dan saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan di dalam.

Dua jam lebih berlalu, Sri pun pamit. Wajahnya tidak lagi segelap saat baru datang. Sudah ada senyum di wajahnya yang memang manis.

Kemudian anak saya bercerita panjang lebar tentang apa-apa yang mereka bicarakan di dalam kamar tadi.

Ternyata Sri habis berantem lagi sama ibunya. Wah...anak ini emang hobi berantem ama sang ibu, karena saya sangat sering mendengar cerita dia berantem, trus musuhan...trus tidak saling ngomong sampai seminggu. Saya menyimak cerita anak saya dengan serius. Intinya, Sri merasa selalu disalahkan, selalu diberi omongan kasar dan ibunya selalu membela adiknya, walaupun sang adik yang salah.
"Ajung, sebel sekali sama ibunya. Nanti Ajung mau nelpon ibunya, biar ngga gitu caranya memperlakukan anak."
"Hushh...ngga boleh gitu, kita ngga tahu situasi yang sebenarnya, jangan sampai kita dibilang terlalu jauh ikut campur," saya berusaha memberi pengertian. "Boleh solider sama temen, tapi jangan berlebihan."
"Tapi ibunya keterlaluan sekali."
"Kalau begitu, bersyukurlah Ajung punya ibu yang baik hati dan tidak sombong, yang ngga pernah marah."
"Huhhhh...mulai deh ibu GR."
Hehehehe....


Kuasa Tuhan

Kemarin sore pulang sekolah anak saya langsung ke rumah sakit untuk membesuk salah satu kakak kelasnya yang opname disana karena kecelakaan. Sampai di rumah, dengan mata berkaca-kaca menahan tangis, dan dengan suara bergetar menceritakan kondisi kakak kelasnya yang sedang koma. Kondisinya sangat parah dan kecil kemungkinan bisa selamat. Di depan ibu kakak kelasnya tersebut, anak saya berusaha keras agar jangan sampai keluar air mata. Tetapi begitu keluar dari ruangan dia tidak dapat menahan tangisnya. Dia menangis mengeluarkan sesak dadanya yang sedari tadi ditahannya. 
Saya sangat mengerti dengan perasaannya, jangankan dia yang melihat langsung dan sering berhubungan dengan ibunya yang juga guru di sekolahnya, saya yang mendengarkan ceritanya saja merasakan kesedihan yang luar biasa. Terbayang bagaimana perasaan si ibu melihat kondisi anaknya. Saya hanya bisa berdoa dari jauh semoga mereka diberikan kekuatan dan ketabahan untuk menghadapi segala kemungkinan.

Pagi tadi, ketika saya sedang di dapur, anak saya mencari saya dan mengatakan bahwa sang kakak kelas sudah tiada. Rupanya dia baru menerima SMS dari temannya yang mengabarkan berita duka itu.

"Bu...kak Ayu ternyata lebih memilih jalan ke atas", katanya dengan mata berkaca-kaca. "Kasihan ibunya, Ajung sayang sekali ama bu Warsi, dia guru yang sangat baik".

"Iyah...Tuhan sudah berkehendak lain, doakan semoga kak Ayu tenang dan bahagia di alam sana", saya berusaha berkata dengan tenang. Sebenarnya saya juga menangis diam-diam. Sebagai seorang ibu, saya sangat....sangat bisa merasakan bagaimana perasaan ibunya.

Semoga si ibu dan seluruh keluarganya diberikan ketabahan, dan Ayu diberikan jalan terbaik oleh Tuhan. Amin

Tidak ada yang bisa menolak kuasa Tuhan. Setiap makhluk hidup sudah pasti akan kembali kepadaNya, hanya masalah waktu. Tetapi kita tetap saja tidak bisa menghindari perasaan duka setiap ada salah satu dari kita menghadapNya.

 

Gadis

Ada begitu banyak cerita disekitar putriku, cerita khas remaja, terutama yang lucu-lucu. Kisah teman-temannya yang beraneka ragam. 

Nikmatilah masa-masa remajamu saat ini. Masa-masa SMA, kelak....akan menjadi kenangan indah setelah engkau dewasa. Cari ilmu sebanyak mungkin, belajarlah segala hal untuk bekalmu nanti. Gali semua potensi yang ada, kembangkan semua potensi yang engkau miliki, sampai engkau menemukan apa sebenarnya cita-citamu.

Seperti sebuah lagu  lama dari Titiek Puspa, yang mempunyai syair begitu indah tentang seorang Gadis.

GADIS

Hai, gadis// Adikku ayu, bahagianya seumurmu// Kau lincah, cantik dan lugu// Tawa tangis kau pun lucu

Hai, gadis// Kau pasti tahu// Dilambangkan kuncup bunga//

Hai, gadis// Engkapun tahu// Kini kuncup nanti mekar bunga//

Sudahkah kau siap siaga// Membekali diri 'tuk bertahta

Kelak engkau kan jadi wanita// Dan kau butuh kawan pria

Hai, gadis// Hidup ini indah// Cari ilmu pantang lelah

Yang pasti hormati dirimu// Agar pria lebih hormat padamu

Gadis hai gadis, hidup ini indah// Gadis hai gadis engkau cantik lincah

Gadis hai gadis, asal engkau tahu// Gadis hai gadis bahagia...dirimu

Doaku...untukmu....gadis!!