KADO ULANG TAHUN YANG KE DELAPAN BELAS
Bulan Mei ini, anak saya memasuki usia delapan belas tahun. Sebuah usia yang menapak dewasa. Dalam usianya ini, sebagai orang tua saya harus makin pintar menempatkan diri, tidak hanya sebagai orang tua tapi juga sebagai teman yang tepercaya dalam segala hal. Satu hal yang tidak akan pernah saya lakukan adalah mendikte dan memaksakan kehendak.
Ulang tahun kali ini ia memperoleh kado terindah: mendapat kesempatan sebagai editor freelance (sesuai keinginannya) di sebuah website pariwisata berbahasa Inggris, setelah mengikuti tes dan dinyatakan lulus.
Wah, senangnya tidak terkira karena jenis pekerjaan seperti inilah yang diinginkannya. Terutama karena sangat sesuai dengan hobinya yaitu online dan Bahasa Inggris. Dia memang ingin mempunyai kegiatan untuk mengisi waktu libur yang panjangnya berbulan-bulan sebelum perkuliahan efektif dimulai. “Kegiatan yang menyenangkan dan menghasilkan uang, Bu, tapi bisa dikerjakan di rumah.” Itu katanya. J
Sebenarnya sudah agak lama dia mengejar-ngejar saya agar mencarikan informasi tentang pekerjaan yang seperti ini. Saya janji, setelah selesai pelaksanaan UAS dan UAN akan saya carikan informasi. Beberapa hari setelah selesai UAS dan UAN, saya mendapat informasi tentang lowongan editor freelance ini. Tugas utamanya adalah menyunting artikel sebelum diposting di website. Kalau dirasa perlu, artikel itu boleh ditulis ulang asalkan tidak mengubah isinya.
Saya menyampaikan informasi tersebut kepada anak, apakah dia berminat?
“Berminat banget!” jawabnya antusias.
“Nah, kalau begitu silakan buka tautan ini, semua persyaratan ada di situ termasuk cara pendaftarannya.”
Saya pun memberinya sebuah tautan, langkah-langkah selanjutnya dia lakukan sendiri.
Setelah melakukan registrasi, dan mengikuti tes, singkat kata dia dinyatakan lulus dan layak sebagai editor di website tersebut. Mulailah hari-harinya sebagai pekerja freelance. Saya menganggap pekerjaannya ini sebagai ajang melatih disiplin dan mengatur waktu. Mau tidak mau dia jadi lebih bertanggung jawab, terutama dalam pengelolaan waktu. Setelah UAN, praktis tidak ada lagi kegiatan di sekolahnya, tetapi kegiatan belajar tetap ada untuk persiapan masuk perguruan tinggi. Dia ikut les intensif setiap hari dari jam sembilan sampai jam sebelas. Setelah itu dia mengatur waktunya sendiri agar semua kegiatannya bisa berjalan. Dia sendiri menentukan target berapa artikel yang harus diselesaikan dalam sehari. Mengatur jadwal untuk kumpul-kumpul atau jalan-jalan dengan gang-nya, dan tetap ingat dengan tugas-tugas rumah tangga yang biasa dikerjakannya.
Walaupun anak tunggal, saya tidak pernah memanjakannya secara berlebihan. Justru karena anak tunggallah saya harus benar-benar mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi kehidupan yang makin tidak mudah ini. Karena tidak punya saudara kandung tempatnya bergantung, walaupun sepupu-sepupunya sangat menyayangi dan memperhatikannya. Saya ingin dia terbiasa ringan tangan, tidak canggung mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Cepat atau lambat, dia akan berpisah dengan orang tuanya dan membangun rumah tangga sendiri. Bila saat itu tiba, dia tidak akan kaget lagi. Untuk itulah saya berusaha mendidiknya dengan sebaik mungkin, dengan tetap bisa menikmati masa-masa remajanya yang indah.
Saya bersyukur Tuhan menganugerahkan seorang putri yang baik dan taat pada orang tuanya. Terima kasih, Tuhan. Semoga Engkau selalu menjaganya dan mengabulkan segala cita-citanya. Amin.